Renungan Pria Kaum Bapa Lukas 5 : 27-32 Kata Yang Mengubah Orang

Daftar Isi

 

sumber; pixabay

Gmimbetel Pintukota kata dapat mengubah orang. benarkah? Saya yakin kita mempunyai pengalaman di mana seseorang dapat diubah ketika mendengar nasihat, atau teguran. Kata atau kalimat yang mengubah dapat diistilahkan dengan ‘kata yang penuh kuasa’. 

Suatu waktu Yesus melayani di daerah Galilea. Di sana Ia banyak mengadakan mujizat. Sesudah menyembuhkan beberapa orang di dalam sebuah rumah, dikatakan: “Ia pergi keluar”. Ia melihat seorang pemungut cukai dan berkata kepadanya “Ikutlah Aku”. Kata-kata Yesus sungguh penuh kuasa. Ia memiliki otoritas pemanggilan. Si Lewi-pun segera meninggalkan sesuatu lalu mengikuti Dia. 


Sesudah itu, ia mengajak Yesus ke rumahnya dan mengadakan perjamuan besar. Rupanya ia mengundang juga para pemungut cukai lainnya. Pertemuan mereka menjadi perjamuan besar antara Yesus dan orang lain bersama para pemungut cukai. 

Makan bersama merupakan tanda persekutuan yang erat. Oleh karena itu, pastilah perjamuan mereka mengundang perhatian orang. Sekaligus mengundang reaksi. Tak terkecuali para ahli Taurat dan orang Farisi, segera memberi tanggapan. "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?", kata mereka. 

Ungkapan ‘pemungut cukai dan orang berdosa’ merupakan kata-kata penghinaan yang lazim dari orang Farisi kepada pihak rakyat dan orang banyak yang dianggap tidak mengenal isi Taurat. Tujuannya menyudutkan dan menghakimi.

Karenanya, tindakan Yesus dipertanyakan dan tidak dapat diterima dalam kerangka tradisi keagamaan Yahudi. Jawaban Yesus kemudian menjelaskan alasan tindakan-Nya. Ia membandingkan dengan pekerjaan tabib. "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (ay 31). 

Tabib tidak berhubungan dengan orang sehat melainkan orang sakit. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (ay 32). Artinya jelas bahwa Yesus datang untuk memberi pengampunan dan memanggil orang berdosa supaya bertobat. Dalam bagian lain dikatakatan, Mesias, Sang Penyelamat datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. 

Para bapak kekasih Tuhan,
Selama masa pelayanan-Nya, Yesus kerap berkonflik dengan kaum Farisi, yakni para pembuat hukum dari bangsa Yahudi. Mereka memperhatikan perilaku yang dapat diatur oleh peraturan-peraturan. Tetapi Yesus mempunyai pendekatan yang lain sama sekali. Ia sangat memperhatikan manusia. 

Bagi Yesus rahasia kebaikan manusia ditemukan bukan pertama-tama dengan menaati peraturan-peraturan, tetapi di dalam tindakan-tindakan seseorang yang tabiatnya telah diubah. “Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik” (Mat 7:18). 

Mereka yang diubah hati dan pikirannya akan memancarkan pola perilaku yang memancarkan damai sejahtera, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dalam tertib hidup dengan manusia lain, bahkan dengan alam ciptaan. Karena itu, pengajaran Yesus adalah semacam “kompas”, sesuatu yang memberi arah. 

Di pihak lain, kita menyaksikan bahwa Tuhan sungguh mempedulikan dan mengasihi manusia. Hal ini sesungguhnya telah berlangsung sejak zaman Perjanjian Lama. Bagian pokok dari salah satu hukum PL adalah penyataan: “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus (Im 19:2). 

Yang khas dari dari karya Allah dalam sejarah Israel adalah kesediaan-Nya memperdulikan orang yang tidak memikirkan-Nya. Ia kudus dalam kasih. Abraham yang diberi tanah, Israel yang dibebaskan dari Mesir, memperoleh kasih anugerah-Nya, bukan pertama karena kesempurnaan moral mereka melainkan hanya kepedulian dan kasih Allah itu. 

Berdasarkan kebaikan yang sebenarnya tidak layak diterima manusia, maka Tuhan memberi sekaligus menuntut. “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” . (Mat 10:8) Setiap orang mesti memancarkan perilaku yang bersumber dari sifat Allah ini. 

Jadi ketaatan dalam Dia bersifat rendah hati, sukarela dan dilaksanakan dengan tulus. Mereka yang berbuat baik, bukan agar dibenarkan, tapi sebagai jawaban atau ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan sendiri. 

Para bapak yang kekasih,
Kita adalah orang-orang yang dilepaskan dari belenggu dan perhambaan dosa berdasarkan kasih karunia Allah. Seperti si Lewi, layaklah kita menyambut penuh syukur atas pekerjaan Tuhan tersebut. Setiap hari kita diajak untuk bersyukur. Marilah kita selalu berpesta secara iman, bukan dalam artian harafiah tetapi dalam hati, pikiran dan tindakan yang memuliakan Dia.

Sementara itu, Yesus memberi teladan bahwasanya, kata-kata kita dapat mengubah orang. Sebuah kata dapat memberi dorongan, semangat, kekuatan, atau malah sebaliknya. 

Entah ia diucapkan dengan nada mengkritik, menegur, menasehati; sebuah kata dapat mengubah bila dilandaskan dengan kekuatan Roh Kudus sendiri. 1 Petrus  4:11 berkata: Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah,…” Jadi, Tuhanlah yang berada di balik apa yang kita ucapkan dan lakukan.  

Amin

sumber renungan pelita

Posting Komentar